Portfolio
Selama lebih dari satu dekade, kami bermanuver sebagai jaringan independen yang digerakkan oleh para non-state actors—tenaga ahli, kurator program, dan praktisi lintas sektor—yang secara aktif mengeksekusi intervensi strategis di lanskap global.
Di kaki Gunung Galunggung, 'Au Revoir' karya Nikolai Gogol terlahir kembali sebagai 'Tamu Agung'—disajikan dalam gaya longser dengan atraksi sirkus asli Tasikmalaya.

Diadaptasi dari lirik band EDM Ballad eponim, menceritakan kisah Sundaland. Memadukan beat EDM modern dengan melodi musik purba.

Adaptasi artistik dari 'Syair' karya PHH Mustofa. Saat ini dalam tahap pengembangan.

Upaya mitigasi gempa melalui seni. Di wilayah tempat patahan warisan Zaman Es bersiap melepaskan energi besarnya, pertunjukan ini dipentaskan di Museum Geologi—mengingatkan generasi sekarang untuk tidak lalai.

Setelah perjalanan panggung yang dianggap berhasil, Balukarna diabadikan ke layar lebar dan diputar di bioskop berbagai kota Indonesia.

Prekuel Balukarna yang mengangkat isu perempuan dan perdagangan manusia. Menyuarakan penolakan terhadap sunat perempuan sebagai hak tubuh yang tidak dapat dirampas.

Dalam semesta ini, Kabayan—tokoh legendaris jenaka Sunda—menolak menjadi karakter komedi. Tapi dalam kesendiriannya, dunia justru tertawa semakin keras. Ia kalap, dan merencanakan perang saudara.

Adaptasi adegan imam dalam Les Misérables karya Norman McKinnel. Dipersembahkan untuk acara paroki sebagai program lintas budaya bersama Keuskupan Bandung—sebuah praktik konkret toleransi.

Drama musikal aksi bertema HIV/AIDS di kalangan remaja, memadukan konsep Barat dan Timur—musik Eropa bertemu tari topeng Indonesia. Dipentaskan di berbagai kota dan provinsi, ditonton hampir 200.000 penonton, dan diadaptasi menjadi film layar lebar.